Bono Sungai Kampar, Riau

bono sungai kampar-riau
Jangankan masyarakat Indonesia, bahkan penduduk Riau sekalipun banyak yang belum pernah melihat Bono Tujuh Hantu alias The Seven Ghosts Bono.

Tetapi beberapa bule dari manca negara sudah akrab, bahkan sebagian dari bule tersebut jatuh cinta dan janjian akan ketemu lagi setiap tahun. Bono Tujuh Hantu kelihatannya berhasil menjerat rindu sang tamu.

Dalam tiga tahun terakhir ini Bono Tujuh Hantu telah menjadi buah bibir di manca negara. Peselancar dari Inggris, Perancis, Brazil, Israel, Amerika Serikat, dan lain-lain yang sudah pernah berhadapan dengan sang hantu sangat kagum dengan Bono Tujuh Hantu di Kuala Kampar.

Konon hanya terdapat dua lokasi Bono di dunia yang tergolong besar, yakni di Brazil tepatnya di muara Sungai Amazon  yang dikenal dengan nama "Pororoca", dan satunya lagi di kuala Sungai Kampar, Pelalawan, Riau. Tetapi Ombak Bono kuala Sungai Kampar diklaim lebih besar dibandingkan ombak Bono di Sungai Amazon.

Artikel terkait tentang Pororoca bisa Anda baca: disini

Tinggi ombak bisa mencapai enam sampai tujuh meter. Dan ini sangat memacu adrenalin dan disukai oleh peselancar kelas dunia. Tim ekspedisi Rip Curl bahkan dengan takjub menyebutkan, ombak Bono di kuala Sungai Kampar "mungkin tak tertandingi" (may be unrivaled).

Ombak Bono adalah fenomena alam yang disebabkan pertemuan arus pasang air laut dengan arus Sungai Kampar dari hulu menuju hilir. Kecepatan air Sungai Kampar menuju arah laut berbenturan dengan arus air laut yang memasuki Sungai Kampar. Benturan kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang.

Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari.

Bono akan terjadi hanya ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar lagi jika pada saat air laut mengalami pasang besar (bulan besar) diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar. Derasnya arus sungai akibat hujan akan berbenturan dengan derasnya pasang air laut yang masuk ke Kuala Kampar.

Awal akan terjadinya ombak Bono diawali dengan bunyi desingan yang diikuti dengan bunyi gemuruh air. Bunyi gemuruh semakin lama akan semakin keras bagaikan dentuman guntur diiringi dengan besarnya gelombang ombak Bono. Kecepatan gelombang ombak Bono mencapai 40 km/jam dan memasuki ke arah hulu berkilo-kilo meter jauhnya biasanya mencapai jarak 60 km jauhnya ke hulu dan berakhir di daerah Tanjung Pungai. Itulah sebabnya Bono Sungai Kampar diklaim lebih besar dari Pororoca di Brazil yang menjulur hanya sejauh 12-15 km saja.

Ombak Bono besar biasanya terdiri tujuh puncak gelombang yang beriringan seakan berkejar-kejaran. Benturan massa yang demikian besar ini menimbulkan gelombang yang tinggi dan suara gemuruh yang menggetarkan. Dulu Ombak Bono di kuala Sungai Kampar itu merupakan sosok yang menakutkan, karena sudah banyak kapal yang menjadi korban.

Tetapi kini justru menjadi obyek wisata andalan bagi Pemda Kabupaten Pelalawan. Keberanian peselancar kelas dunia menunggang gelombang Bono seakan tak memiliki syaraf takut, dan diberitakan oleh media nasional dan mancanegara, telah mengubah citra Bono.

Kata Bono sendiri menurut Wak Soma Tokoh Masyarakat Teluk Meranti berasal dari sebuah cerita pada dulu kalanya, cerita ini telah menjadi cerita secara turun temurun.

Pada jaman dahulu kala orang Pelalawan dari Kerajaan Pelalawan pergi berbelanja ke Malaka, saat itu mereka menggunakan tongkang. Sesampainya di Laut Embun (Teluk Meranti) Tongkang yang mereka gunakan kandas terkena gelombang pasang. Lalu mereka kembali ke Pelalawan dan melapor kepada Raja Pelalawan bahwa tongkang mereka kandas dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Tetapi raja Pelalawan tidak percaya begitu saja dengan omongan warganya, kemudian Raja Pelalawan mengutus beberapa orang untuk ke Teluk Embun untuk membuktikan apakah benar apa yang dikatakan warganya dan juga diikuti oleh beberapa orang sebagai saksi yaitu Anak Raja Pelalawan, Anak Raja Ranah Tanjung Bunga (Langgam), Anak Raja Pagaruyung, Anak Raja Gunung Sahilan, Anak Raja Macam Pandak. Apabila kemudian tidak terbukti omongan para warga yang mengatakan kapal mereka telah kandas, maka sang Raja akan memberikan hukuman mati kepada Sang Juru Kemudi tongkang.

Sesampainya mereka di Teluk Embun mereka menemukan gelombang pasang dan tongkang mereka juga kandas, kemudian Anak Raja Pelalawan berkata kepada juru kemudi Tongkang, "Iyoo, bono gelombang pasang kato awak tu." (Ternyata Benar yang kamu katakan). Bono sendiri adalah kata dalam bahasa Melayu logat Pelalawan yang berarti benar.

Menurut cerita masyarakat Melayu lama, ombak Bono terjadi karena perwujudan 7 hantu yang sering menghancurkan sampan maupun kapal yang melintasi Kuala Kampar. Ombak besar ini sangat menakutkan bagi masyarakat sehingga untuk melewatinya harus diadakan upacara semah. Ombak ini sangat mematikan ketika sampan atau kapal berhadapan dengannya. Tak jarang sampan hancur berkeping-keping di hantam ombak tersebut atau hancur karena menghantam tebing sungai. Tak sedikit kapal yang diputar balik dan tenggelam akibatnya.

Menurut cerita masyarakat pula, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 ombak besar dari 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut.

Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 enam gulungan besar gelombang ombak Bono. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya tidak pernah diketemukan sampai sekarang.

Konon katanya pada zaman Belanda, rakyat Teluk Meranti telah sering ditantang keberaniannya oleh Belanda untuk mengendarai kapal di atas Gelombang Bono dengan imbalan Rp. 5 yang pada masa itu tentunya dianggap berjumlah cukup banyak. Istilah untuk keberanian menaklukkan Bono dikenal oleh masyarakat setempat dengan Bekudo Bono.

Konon pula, Bono di sungai kampar adalah Bono jantan dan Bono betinanya berada di sungai Rokan dekat Bagansiapi-api. Bono di kuala kampar ini berjumlah tujuh ekor, bentuknya serupa kuda disebut induk Bono. Di musim pasang mati, Bono ini pergi ke sungai Rokan menemui Bono betina,kemudian bersantai menuju ke selat Malaka.

Itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, Bono tidak ditemukan kedua sungai tersebut. Jika bulan mulai besar, kembalilah Bono ketempat masing-masing, lalu main memudiki sungai Kampar dan sungai Rokan. Semakin penuh bulan di langit, semakin gembira Bono berpacu memudiki kedua sungai itu.

Bono biasanya terjadi pada setiap tanggal 10-20 bulan Melayu dalam tahun Arab yang biasa disebut penduduk sebagai "Bulan Besar" atau "Bulan Purnama". Biasanya gelombang Bono atau Ombak Bono yang besar terjadi pada tanggal 13-16 bulan Melayu tahun Arab tersebut. Gelombang yang terjadi biasanya akan berwarna putih dan coklat mengikut warna air Kuala Kampar. Selain itu, Bono juga terjadi pada setiap "bulan mati" yaitu akhir bulan dan awal bulan (tanggal 1) Tahun Arab.

Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yaitu sekitar bulan November dan Desember. Bono mulai terbentuk dan membesar di kanan kiri Pulau Muda, akibat penyempitan alur sungai karena adanya pulau (P. Muda) di tengah-tengah alur sungai. Bono terbesar terjadi di Tanjung Perbilahan, yang terbentuk karena bertemunya Bono yang sudah terbentuk di kanan-kiri Pulau Muda.

Untuk mengetahui sedahsyat apa Bono Sungai Kampar ini sehingga mampu memikat para peselancar kelas dunia yang ketagihan ingin kembali dan kembali lagi "Bekudo Bono", saksikan saja videonya dibawah ini. (rpg/tvsx)


Maaf, hanya komentar relevan yang akan ditampilkan. Komentar sampah atau link judi online atau iklan ilegal akan kami blokir/hapus.

Posting Komentar

0Komentar